Sabtu, 18 Mei 2019




“Kubilang Saja Rindu”
Karya: Eva Fiddiana

Sejuk nan lembut menyapa diri
Dari atas ketinggian yang sedang kunikmati
Terdiam sejenak bukan karena tak bisa berkata
Namun ada satu hal yang membuatku terpana
Ya, hamparan sabana hijau yang memukau
Yang membuatku teringat masa masa lampau

            Satu bait puisi di atas mungkin bisa menggambarkan sesuatu yang hampir terlupakan. Baris terakhir yang bertulis “... teringat masa lampau”, mungkin sebagian belum bisa mengartikan apa maksudnya. Hamparan sabana hijau yang memukau yang membuat teringat masa masa lampau?
            Jika kamu punya waktu luang, cobalah melakukan sesuatu yang berbeda dari kebiasaanmu sehari-hari. Menyapa alam adalah cara terbaik mengembalikan mood-mu yang hampir berantakan entah itu karena beban kerja atau deadline tugas kuliah yang menumpuk. Gunung merupakan salah satu destinasi wisata alam yang akhir-akhir ini banyak dikunjungi untuk melepas penat. Selain karena udaranya yang sejuk dan indahnya pemandangan dari atas sana, gunung juga memiliki satu kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh destinasi wisata lain. Saat kita melakukan perjalanan, gunung memberi banyak pelajaran yang berharga kepada kita. Apa saja pelajarannya? Mari kita simak bersama.
            Pertama, ketika kita akan melakukan pendakian, hal yang harus diperhatikan paling utama adalah keselamatan. Sebelum berangkat, kita melakukan persiapan dengan cara olahraga, makan makanan sehat, dan cukup istirahat agar badan tetap fit dan siap untuk berangkat mendaki. Bandingkan dengan keseharian kita. Jangankan berolahraga, tidur saja kita kadang tidak memperhatikan jam. Kita hanya sibuk dengan tugas dan lemburan yang membuat kesehatan kita tak terjaga dengan baik. Dari sini kita belajar bahwa kesehatan ternyata merupakan sesuatu yang sangat berharga dan wajib untuk dijaga.
            Kedua, saat melakukan pendakian. Dalam perjalanan sebuah tim yang terdiri dari leader dan anggota, kerja sama merupakan hal yang sangat diperhatikan. Pada fase ini akan terlihat diri kita yang sebenarnya. Apakah kita adalah seorang yang ambisius, egois, mudah mengeluh, ingin menang sendiri, penyabar, pantang menyerah, hemat, atau yang lainnya. Selain bisa menilai diri kita sendiri, kita juga bisa melihat pribadi atau karakter yang sebenarnya dari rekan perjalanan mendaki tersebut. Dari sini kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa meningkatkan rasa empati serta tolong menolong kepada sesama.
            Ketiga, saat sampai puncak. Kita melihat pemandangan yang sangat indah dari atas gunung. Kita menyadari bahwa semua itu berkah dari Tuhan semesta alam, yaitu Allaah Subhanahu wa Ta’ala. Dari atas gunung kita disuguhkan dengan keagungan ciptaan Tuhan yang tiada tara, kemudian secara langsung kita bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menikmatinya. Coba saja bandingkan dengan keseharian kita yang kadang lupa untuk bersyukur. Dari sini kita belajar tentang makna syukur itu sendiri.
            Keempat, menyambung kalimat “...teringat masa lampau”. Maksudnya yaitu tentang kondisi yang jauh berbeda antara masa lalu dengan masa sekarang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tak pernah terlepas dari benda elektronik yang bernama smartphone, gadget, dan kawan-kawannya. Ketika di gunung, kebersamaan sangat terasa tanpa gangguan benda-benda itu. Kita sama sekali tidak disibukkan untuk mengecek hp. Kondisi inilah yang membuat teringat masa kecil yang sangat indah, tak seperti masa kecil di masa sekarang yang sudah mengenal medsos. Dunia kita adalah dunia yang sebenarnya. Kita bermain petak umpet di halaman rumah, sepak bola, layang-layang, atau menyanyi lagu “Padhang Bulan” contohnya. Ya, itulah masa kecil kita. Masa lampau yang tiba-tiba teringat ketika kita berada di tempat yang susah sinyal. Puncak gunung maksudnya.
            Kesemuanya itu yang membuatku rindu untuk kembali menyapamu, alam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar