“Kubilang Saja Rindu”
Karya: Eva
Fiddiana
Sejuk nan lembut menyapa diri
Dari atas ketinggian yang sedang kunikmati
Terdiam sejenak bukan karena tak bisa berkata
Namun ada satu hal yang membuatku terpana
Ya, hamparan sabana hijau yang memukau
Yang membuatku teringat masa masa lampau
Satu bait puisi di atas mungkin bisa
menggambarkan sesuatu yang hampir terlupakan. Baris terakhir yang bertulis “... teringat masa lampau”, mungkin
sebagian belum bisa mengartikan apa maksudnya. Hamparan sabana hijau yang
memukau yang membuat teringat masa masa lampau?
Jika kamu punya waktu luang, cobalah
melakukan sesuatu yang berbeda dari kebiasaanmu sehari-hari. Menyapa alam
adalah cara terbaik mengembalikan mood-mu
yang hampir berantakan entah itu karena beban kerja atau deadline tugas kuliah yang menumpuk. Gunung merupakan salah satu
destinasi wisata alam yang akhir-akhir ini banyak dikunjungi untuk melepas
penat. Selain karena udaranya yang sejuk dan indahnya pemandangan dari atas
sana, gunung juga memiliki satu kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh
destinasi wisata lain. Saat kita melakukan perjalanan, gunung memberi banyak
pelajaran yang berharga kepada kita. Apa saja pelajarannya? Mari kita simak
bersama.
Pertama, ketika kita akan melakukan
pendakian, hal yang harus diperhatikan paling utama adalah keselamatan. Sebelum
berangkat, kita melakukan persiapan dengan cara olahraga, makan makanan sehat,
dan cukup istirahat agar badan tetap fit dan siap untuk berangkat mendaki. Bandingkan
dengan keseharian kita. Jangankan berolahraga, tidur saja kita kadang tidak
memperhatikan jam. Kita hanya sibuk dengan tugas dan lemburan yang membuat
kesehatan kita tak terjaga dengan baik. Dari sini kita belajar bahwa kesehatan
ternyata merupakan sesuatu yang sangat berharga dan wajib untuk dijaga.
Kedua, saat melakukan pendakian. Dalam
perjalanan sebuah tim yang terdiri dari leader
dan anggota, kerja sama merupakan hal yang sangat diperhatikan. Pada fase ini
akan terlihat diri kita yang sebenarnya. Apakah kita adalah seorang yang
ambisius, egois, mudah mengeluh, ingin menang sendiri, penyabar, pantang menyerah,
hemat, atau yang lainnya. Selain bisa menilai diri kita sendiri, kita juga bisa
melihat pribadi atau karakter yang sebenarnya dari rekan perjalanan mendaki
tersebut. Dari sini kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa
meningkatkan rasa empati serta tolong menolong kepada sesama.
Ketiga, saat sampai puncak. Kita melihat
pemandangan yang sangat indah dari atas gunung. Kita menyadari bahwa semua itu
berkah dari Tuhan semesta alam, yaitu Allaah Subhanahu wa Ta’ala. Dari atas
gunung kita disuguhkan dengan keagungan ciptaan Tuhan yang tiada tara, kemudian
secara langsung kita bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk
menikmatinya. Coba saja bandingkan dengan keseharian kita yang kadang lupa
untuk bersyukur. Dari sini kita belajar tentang makna syukur itu sendiri.
Keempat, menyambung kalimat “...teringat masa lampau”. Maksudnya yaitu
tentang kondisi yang jauh berbeda antara masa lalu dengan masa sekarang. Dalam kehidupan
sehari-hari, kita tak pernah terlepas dari benda elektronik yang bernama smartphone, gadget, dan kawan-kawannya. Ketika
di gunung, kebersamaan sangat terasa tanpa gangguan benda-benda itu. Kita sama
sekali tidak disibukkan untuk mengecek hp. Kondisi inilah yang membuat teringat
masa kecil yang sangat indah, tak seperti masa kecil di masa sekarang yang
sudah mengenal medsos. Dunia kita adalah dunia yang sebenarnya. Kita bermain petak
umpet di halaman rumah, sepak bola, layang-layang, atau menyanyi lagu “Padhang Bulan” contohnya. Ya, itulah
masa kecil kita. Masa lampau yang tiba-tiba teringat ketika kita berada di
tempat yang susah sinyal. Puncak gunung maksudnya.
Kesemuanya
itu yang membuatku rindu untuk kembali menyapamu, alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar