Senin, 20 April 2020

Habis Gelap Terbitlah Terang

☀ *Habis Gelap Terbitlah Terang* ☀

Ditulis oleh : Eva Fiddiana, 21 April 2020.

_Dari mana datangnya gagasan RA Kartini itu? Siapa guru spiritualnya?_

💁🏻 Belum banyak yang mengetahui bahwa ada seorang kyai besar dan berpengaruh yang sesungguhnya lebih banyan berperan dalam membentuk pencerahan RA Kartini , yaitu sosok  arif bijak (Al Arif billah) *Muhammad Soleh bin Umar Assamarani* atau akrab dikenal KH Soleh Darat Semarang. Kartini yang tengah haus ilmu agama banyak menimba pengetahuan dari sang kyai.

💁🏻 Dalam sebuah pengajian di pendopo rumah Bupati Demak Pangeran Ario Hadiningrat yang juga paman RA Kartini muncul dialog yang terlalu vulgar di zamannya. Sang Kyai saat itu tengah menerangkan tafsir surat *Al Fatihah*.

Pengajian hampir usai, RA Kartini yang ikut menyimak, tak kuasa untuk menyampaikan sesuatu kepada Kyai Sholeh Darat di akhir acara. _“Kyai, perkenankan saya bertanya bagaimana hukumnya apabila seorang berilmu menyembunyikan ilmunya?”_ Kartini membuka dialog.

Kyai Sholeh tertegun. _“Mengapa Raden Ajeng bertanya demikian?”_ Kyai Sholeh balik bertanya.

_“Kyai, selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al Fatihah, surat pertama dan induk Al Quran. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku,”_ ujar Kartini. _“Bukan buatan rasa syukur hati ini kepada Allah,”_ lanjutnya. *_“Namun, aku heran mengapa selama ini para ulama melarang keras penerjemahan dan penafsiran Al Quran ke dalam Bahasa Jawa. Bukankah Al Quran adalah bimbingan hidup bahagia dan sejahtera bagi manusia?”_*

💁🏻 Saat mempelajari Islam lewat tafsir berbahasa Jawa inilah muncul ungkapan idiomatik yang cukup terkenal dari RA Kartini, *“Habis gelap terbitlah terang”*, yang mencerminkan hubungan pencerahan guru terhadap muridnya.

👩🏻‍🏫 Sebenarnya secara redaksi, ungkapan itu merupakan gubahan ritmis Armijn Pane yang mengkodifikasi surat-surat RA Kartini untuk jadi buku. Aslinya adalah _“Minadzulumati ilan Nuur”,_ ungkapan yang terinspirasi oleh Al Quran surat Al Baqarah ayat 257; *“Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan  kepada cahaya.”*(Q.S:2:257).

🌸 *SELAMAT HARI KARTINI* 🌸

Sabtu, 18 Mei 2019




“Kubilang Saja Rindu”
Karya: Eva Fiddiana

Sejuk nan lembut menyapa diri
Dari atas ketinggian yang sedang kunikmati
Terdiam sejenak bukan karena tak bisa berkata
Namun ada satu hal yang membuatku terpana
Ya, hamparan sabana hijau yang memukau
Yang membuatku teringat masa masa lampau

            Satu bait puisi di atas mungkin bisa menggambarkan sesuatu yang hampir terlupakan. Baris terakhir yang bertulis “... teringat masa lampau”, mungkin sebagian belum bisa mengartikan apa maksudnya. Hamparan sabana hijau yang memukau yang membuat teringat masa masa lampau?
            Jika kamu punya waktu luang, cobalah melakukan sesuatu yang berbeda dari kebiasaanmu sehari-hari. Menyapa alam adalah cara terbaik mengembalikan mood-mu yang hampir berantakan entah itu karena beban kerja atau deadline tugas kuliah yang menumpuk. Gunung merupakan salah satu destinasi wisata alam yang akhir-akhir ini banyak dikunjungi untuk melepas penat. Selain karena udaranya yang sejuk dan indahnya pemandangan dari atas sana, gunung juga memiliki satu kelebihan yang mungkin tidak dimiliki oleh destinasi wisata lain. Saat kita melakukan perjalanan, gunung memberi banyak pelajaran yang berharga kepada kita. Apa saja pelajarannya? Mari kita simak bersama.
            Pertama, ketika kita akan melakukan pendakian, hal yang harus diperhatikan paling utama adalah keselamatan. Sebelum berangkat, kita melakukan persiapan dengan cara olahraga, makan makanan sehat, dan cukup istirahat agar badan tetap fit dan siap untuk berangkat mendaki. Bandingkan dengan keseharian kita. Jangankan berolahraga, tidur saja kita kadang tidak memperhatikan jam. Kita hanya sibuk dengan tugas dan lemburan yang membuat kesehatan kita tak terjaga dengan baik. Dari sini kita belajar bahwa kesehatan ternyata merupakan sesuatu yang sangat berharga dan wajib untuk dijaga.
            Kedua, saat melakukan pendakian. Dalam perjalanan sebuah tim yang terdiri dari leader dan anggota, kerja sama merupakan hal yang sangat diperhatikan. Pada fase ini akan terlihat diri kita yang sebenarnya. Apakah kita adalah seorang yang ambisius, egois, mudah mengeluh, ingin menang sendiri, penyabar, pantang menyerah, hemat, atau yang lainnya. Selain bisa menilai diri kita sendiri, kita juga bisa melihat pribadi atau karakter yang sebenarnya dari rekan perjalanan mendaki tersebut. Dari sini kita belajar menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa meningkatkan rasa empati serta tolong menolong kepada sesama.
            Ketiga, saat sampai puncak. Kita melihat pemandangan yang sangat indah dari atas gunung. Kita menyadari bahwa semua itu berkah dari Tuhan semesta alam, yaitu Allaah Subhanahu wa Ta’ala. Dari atas gunung kita disuguhkan dengan keagungan ciptaan Tuhan yang tiada tara, kemudian secara langsung kita bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk menikmatinya. Coba saja bandingkan dengan keseharian kita yang kadang lupa untuk bersyukur. Dari sini kita belajar tentang makna syukur itu sendiri.
            Keempat, menyambung kalimat “...teringat masa lampau”. Maksudnya yaitu tentang kondisi yang jauh berbeda antara masa lalu dengan masa sekarang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita tak pernah terlepas dari benda elektronik yang bernama smartphone, gadget, dan kawan-kawannya. Ketika di gunung, kebersamaan sangat terasa tanpa gangguan benda-benda itu. Kita sama sekali tidak disibukkan untuk mengecek hp. Kondisi inilah yang membuat teringat masa kecil yang sangat indah, tak seperti masa kecil di masa sekarang yang sudah mengenal medsos. Dunia kita adalah dunia yang sebenarnya. Kita bermain petak umpet di halaman rumah, sepak bola, layang-layang, atau menyanyi lagu “Padhang Bulan” contohnya. Ya, itulah masa kecil kita. Masa lampau yang tiba-tiba teringat ketika kita berada di tempat yang susah sinyal. Puncak gunung maksudnya.
            Kesemuanya itu yang membuatku rindu untuk kembali menyapamu, alam.

Rabu, 28 November 2018

RUMEKSA
Dening Eva Fiddiana

Endahing candhik ayu sing katon kemuning iku
Ra bisa dak lalekake nalika aku lungguh ing plataran ngarep omahku
Nadyan sing dak enteni katon rangu-rangu
Aku ora gela kadya lagune 'Suwe Ora Jamu'

Kemuning, sore-sore dak enteni angslupe srengenge
Untara sawetawis uga adoh parane
Samya lumaku sinawang lir kencana saroja
Usada ngrangu ing sajroning nala
Manda lumaku angslupe sang surya
Ancasku agawe suka rena

Amrih nora gawe kuciwa
Srengenge kang angslup dak enteni saben dina
Tumawa rasa kangen saka rina
Udan angin tetep dak tunggu
Tanpa sesilih katresnanku
Ismaya kasimpen jroning kalbu
 


Rabu, 26 September 2018



                 Analisis Konteks dan Inferensi pada teks sambutan dengan Tema Hari Kartini
Teks sambutan Peringatan Hari Kartini ini saya ambil dari buku “Sesorah” karya Sri Hono Murwatono
TANGGAP WACANA 
 PENGETAN DINTEN KARTINI
            Assalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.
            Ibu-ibu, sedherek-sedherek remaja putri ingkang satuhu kula kinurmati. Saderengipun, mangga kita sesarengan muji syukur ing pangarsanipun Gusti Allah SWT, awit sih nugraha ingkang kaparingaken dhumateng kita sedaya, katitik ing siyang punika kita sedaya saged sesarengan kempal ing papan panggenan punika kanthi raharja boten kirang setunggal punapa.
            Salajengipun, kula atas nami ketua panitia penyelenggara ngaturaken agenging panuwun dhumateng panjenengan sami para rawuh ingkang sampun nglonggaraken wekdal kersa ngrawuhi undangan ingkang sampun lumantar dhumateng panjenengan sedaya.
            Para rawuh ingkang minulya,
            Kados sampun kita sedaya mangertosi, bilih Raden Ajeng Kartini miyos ing tanggal 21 April 1879 ing Jepara. Pramila ing tanggal 21 April punika kita pengeti minangka dinten lahiripun Raden Ajeng Kartini. Kangge mengeti perjuanganipun Raden Ajeng Kartini ingkang sampun ngangkat drajadipun wanita Indonesia ngantos saged sami kaliyan drajadipun priya.
            Rikala gesangipun Raden Ajeng Kartini, para wanita bangsa Indonesia tansah wonten ing pingitan. Para wanita boten dipunkaparengaken sekolah. Ugi boten dikaparengaken gadhah padamelan ingkang sami kaliyan padamelanipun priya. Ananging sapunika, para wanita sampun sami drajadipun kaliyan drajad kaum priya.
            Babagan punika pranyata saestu saged dipuntingali. Sapunika sampun katah para wanita ingkang hanglenggahi jabatan penting dados ketua-ketua utawi pempimpin-pemimpin, ngantos dados menteri utawi Presiden, kados panjenenganipun Ibu Megawati Sukarnoputri ingkang jumeneng dados Presiden Republik Indonesia ingkang kaping gangsal.
            Para rawuh ingkang minulya,
            Ing salebetipun mengeti dinten wiyosipun Raden Ajeng Kartini, ingkang kedah kita pengeti inggih punika semangatipun ing babagan emansipasi wanita. Boten namung mengeti anggenipun Kartini ngagem samping utawi anggenipun Kartini mawi sanggul ageng kemawon. Ananging kados pundi Raden Ajeng Kartini majengaken para wanita negari kita.
            Mbok menawi saumpami Raden Ajeng Kartini taksih gesang badhe suwun ningali kawontenan kaum wanita ing nagarinipun. Ing sawaunipun supados setarap kaliyan priya ngenani hak-hakipun, malah sapunika kathah ingkang dipun ginakaken tumuju dhumateng kawontenan ingkang boten ngremenaken. Kadosta para wanita ingkang sami ses rokok, para wanita kathah ingkang mawi clana. Punika boten ateges emansipasi! Raden Ajeng Kartini boten nggadhahi emansipasi kados mekaten!
            Emansipasi ingkang dipunperjuangaken Raden Ajeng Kartini inggih punika hak ingkang sami antawisipun priya kaliyan wanita. Menawi priya dipunparengaken sekolah wonten pawiyatan luhur, para wanita inggih dipunparengaken ngudi ilmu wonten ing pawiyatan luhur. Boten namung wanita diunparengaken wonten ing wingking supados masak kemawon.
            Sakderengipun wonten emansipasi saking raden Ajeng kartini, wanita nyambut damelipun namung wonten ing pawon. Boten wonten wanita ingkang nyambut damel wonten ing kantor-kantor kados sapunika. Awit sampun wonten paribasan, menawi kados pundi inggilipun sekolah, wanita ing tembenipun bakal nyambut damel wonten ing pawon.
            Mbok bilih sapunika para wanita sampun sami nyambut damel kangge majengaken bangsa, nagari, tuwin agami, ananging boten kentun wanita tansah kaum wanita ingkang sami nggula wentah amrih raharjaning keluwarga ugi tumut majengaken generasi mudha supados mbina rumah tangganipun saksae-saenipun.
            Kula kinten kirang wicaksana menawi atur kula punika kula panjang lebaraken. Pramila kula cekapi semanten kemawon. Boten kantun kula ngaturaken agunging panuwun dhumateng para rawuh ingkang sampun sami anyengkuyung wontenipun pengetan punika kanthi bantuan ingkang arupi punapa kemawon. Mugi sedaya wau angsal pinwales ingkang sanurwat saking ngarsanipun Gusti Allah SWT.
            Akhirul Kalam, billahi taufik wal hidayah,
            Wassalamu’alaikum warahmatullahi wa barakatuh.

Analisis Konteks dan Inferensi:
1.      Konteks Linguistik
Ø  “Rikala gesangipun Raden Ajeng Kartini, para wanita bangsa Indonesia tansah wonten ing pingitan. Para wanita boten dipunkaparengaken sekolah. Ugi boten dikaparengaken gadhah padamelan ingkang sami kaliyan padamelanipun priya. Ananging sapunika, para wanita sampun sami drajadipun kaliyan drajad kaum priya.”
-          Maksudnya menjelaskan kondisi perbedaan derajad wanita dan pria pada jaman dahulu dengan jaman sekarang.
Ø  ”Sakderengipun wonten emansipasi saking raden Ajeng kartini, wanita nyambut damelipun namung wonten ing pawon. Boten wonten wanita ingkang nyambut damel wonten ing kantor-kantor kados sapunika.”
-          Maksudnya menjelaskan perbedaan pekerjaan wanita pada jaman dahulu dengan jaman sekarang.
2.      Konteks Fisik
a.       Topik Pembicaraan:
Ø  Memperingati hari Kartini
Ø  Mengenang jasa-jasa Raden Ajeng Kartini
Ø  Meniru semangat Raden Ajeng Kartini.
b.      Tempat: tidak ditunjukkan secara jelas tempat kegiatan tersebut diadakan.
c.       Tindakan Penutur dan Mitra Tutur
Penutur                                   : Penutur adalah ketua panitia penyelengara
              peringatan hari Kartini. Ini ditunjukkan pada
                                                              kutipan “kula atas nami ketua panitia
penyelenggara ngaturaken agenging panuwun
dhumateng panjenengan sami para rawuh
ingkang sampun nglonggaraken wekdal kersa
ngrawuhi undangan ingkang sampun lumantar
dhumateng panjenengan sedaya.”
Mitra Tutur                             : Mitra tuturnya adalah ibu-ibu dan remaja
  putri. Ini ditunjukkan pada kutipan “Ibu-ibu,
  sedherek-sedherek remaja putri ingkang
  satuhu kula kinurmati.”
Tindakan Penutur                   : Penutur sedang memberi sambutan tentang
  peringatan hari Kartini.
Tindakan Mitra Tutur             : Menyimak sambutan yang disampaikan oleh
  ketua panitia (penutur).
3.      Konteks Sosial
Ø  ”…. Boten namung mengeti anggenipun Kartini ngagem samping utawi anggenipun Kartini mawi sanggul ageng kemawon. Ananging kados pundi Raden Ajeng Kartini majengaken para wanita negari kita.”
-          Kalimat yang bertulis negari kita menunjukkan bahwa penutur dan mitra tutur berasal dari daerah atau negara yang sama.
4.      Konteks Epistemik
Ø  “Kados sampun kita sedaya mangertosi, bilih Raden Ajeng Kartini miyos ing tanggal 21 April 1879 ing Jepara.”
-          Kalimat yang bertulis sampun kita sedaya mangertosi menunjukkan bahwa penutur dan mitra tutur sama-sama mengetahui kapan dan di mana lahirnya Raden Ajeng Kartini.
5.      Inferensi
a.       Tuturan:
“Ing salebetipun mengeti dinten wiyosipun Raden Ajeng Kartini, ingkang kedah kita pengeti inggih punika semangatipun ing babagan emansipasi wanita. Boten namung mengeti anggenipun Kartini ngagem samping utawi anggenipun Kartini mawi sanggul ageng kemawon. Ananging kados pundi Raden Ajeng Kartini majengaken para wanita negari kita”
Inferensi:
1)      Raden Ajeng Kartini adalah seseorang yang sangat semangat memperjuangkan emansipasi wanita.
2)      Ciri khas penampilan Raden Ajeng Kartini yang menonjol yaitu beliau selalu memakai samping atau sanggul.
3)      Raden Ajeng Kartini adalah pahlawan yang berhasil menyamaratakan derajad wanita dengan derajad pria.
4)      Raden Ajeng Kartini hanya memperjuangkan para wanita di negera Indonesia saja, sedangkan kaum wanita di negara lain tidak beliau perjuangkan.
b.      Tuturan:
“…Ing sawaunipun supados setarap kaliyan priya ngenani hak-hakipun, malah sapunika kathah ingkang dipun ginakaken tumuju dhumateng kawontenan ingkang boten ngremenaken. Kadosta para wanita ingkang sami ses rokok, para wanita kathah ingkang mawi clana. Punika boten ateges emansipasi!...”
Inferensi:
1)      Kaum wanita yang ingin disetarakan dengan kaum pria menirukan kebiasaan kaum pria.
2)      Kaum wanita pada saat ini tidak paham apa yang dimaksud dengan emansipasi yang sesungguhnya.
3)      Kaum wanita jika ingin disetarakan dengan kaum pria maka harus mematuhi norma-norma yang berlaku di Indonesia.
4)      Kaum wanita saat ini tidak diperbolehkan melampaui batas kodratnya sebagai seorang wanita yang sebenarnya.
c.       Tuturan:
“Kula kinten kirang wicaksana menawi atur kula punika kula panjang lebaraken. Pramila kula cekapi semanten kemawon…”
Inferensi:
1)      Penutur menyadari jika dalam penyampaian sambutan terlalu panjang  merupakan tindakan yang kurang bijaksana.
2)      Penutur menyadari bahwa waktu telah habis, maka ia segera menutup sambutannya tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Halliday dan Hasan. 1994. Bahasa, Konteks, dan Teks. Yogyakarta: Gadjah Mada
            University Press
Murwatono. 2013. Sesorah. Yogyakarta: Absolut
Sumarlam. 2008. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta: Pustaka Cakra
Wijana dan Rohmadi. 2011. Analisis Wacana Pragmatik. Surakarta: Yuma
            Pustaka
Tarigan. 2008. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Bandung:
            Angkasa